FENOMENA PORNOGRAFI

  1. A.     Pendahuluan

Di Indonesia fenomena pornografi ini sangat meresahkan dan menggelisahkan yang mengundak aksi protes dari berbagai elemaen masyarakat. Aksi protes tersebuat dilakukan mereka yang pro terhadap RUU Pornografi maupun bagi mereka yang tidak pro kontra terhadap RUU tersebut. Akibat dari fenomena pornografi tersebut, terbukti telah menimbulkan dampak negative di masyarakat seperti adanya kasus pencabulan, perkosaan maupun prilaku seksual permisif di kalangan di remaja yang melakukan tindakan tersebut yang terinspirasi oleh VCD porno yang ia tonton. Dalam hal ini pemerintah seharusnya menunjukkan keseriusannya dalam usaha memberantas praktik pornografi yang ditandai dengan adanya rekomendasi siding tahunan MPR melalu TAP MPR No. VI Tahun 2002 kepada presiden agar mengambil langkah tegas mencegah pornografi tersebut. RUU Pornografi dan Pornoaksi yang dihasilkan pada akhir Mei 2004 oleh anggota pansus RUU atas usulan DEPAG dan dibantu oleh MUI[1] yang sampai saat ini belum juga ada kata sepakat tentang batasan pornografi dan pornoaksi, sehingga hasil RUU tersebut hanya menyisakan banyak kontrofersi dikalangan akademisi oleh karena dinilai masih banyak kelemahan, yang salah satunya definisi yang tidak jelas.

  1. B.     Pengertian Pornografi

Sejak zaman Yunani Kuno hingga abad sekarang, makna pornografi menjadi perdebatan yang tak kunjung redam. Para ahli dan peneliti terhadap geneologi istilah ini mengungkapkan, bahwa pornografi sepanjang sejarah budaya dan peradaban manusia terus mengalami perkembangan dan kontruksi makna beriringan dengan perubahan budaya, social, ekonomi dan politik manusia.

Kata pornogarafi berasal dari Yunani yaitu porne yang artinya pelacur dan graphein yang artinya ungkapan[2]. Tetapi pada perkembangannya kata porno yang berarti cabul.[3] Secara istilah pornografi adalah visualisasi dan verbalisasi melalui media komunikasi atau karya cipta manusia tentang perilaku atau perbuatan laki-laki atau perempuan yang erotis dan sensual dalam keadaan atau kesan telanjang bulat, dilihat dari depan, samping atau belakang, penonjolan langsung alat-alat vital dan sekitarnya baik dengan penutup atau tanpa penutup, adegan merangsang dan sebagainya yang bertuuan untuk membangkitkan nafsu birahi atau yang menimbulkan rasa memuakkan, memalukan bagi yang melihatnya, mendengarnya yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama dan adat istiadat.[4]

Dalam ensiklopedi nasional Indonesia pornografi dalam pengertian sekarang adalah penyajian tulisan, patung, gambar, foto, film, atau rekaman suara yang dapat menimbulkan nafsu birahi dan menyinggung tata susila masyarakat.[5]

Maraknya media yang memuat atau menayangkan hal-hal yang berbau porno sangatlah meresahka masyarakat yang mengakibatkan pengaruh dari pornogarafi ini pada tingkat kriminalitas yang memprihatinkan dan dampak negatifnya semakin nyata, diantaranya sering terjadi perzinahan, perkosaan dan bahkan terjadi aborsi. Orang-orang yang menjadi tindakan tersebut tidak hanya dari perempuan dewasa tetapi banyak yang masih anak-anak dan pelakunya pun tidak hanya orang yang tidak dikenal, melainkan pelakunya adalah orang yang mmempunyai hubungan kekeluargaan dengan korban.

  1. C.     Pornografi dalam Perspektif Hadis

Dalam ajaran Islam, tuuh manusia merupakan amanah Allah swt bagi pemilik tubuh yang bersangkutan yang wajib dijaga dan dipelihara dari perbuatan yag tercela, erbuatan yang merugikan siri bagi pemilik tubuh itu sendiri maupun masyarakat demi keselamatan hidup dan kehidupannya baik di dunia maupu di akhirat kelak.[6]

Tubuh sebagai amanah Allah yang wajib dipelihara oleh setiap insane yang telah difirmankan Allah dalam QS. An-Nur: 30-31yang mengatur teentang tata busana dan atas pergaulan dalam keluarga dan masyarakat bagi laki-laki dan perempuan. Begitu pun dalam QS. Al-Ahzab: 59, ayat tersebut turun kepada nabi Muhammad agar memerintahkan kepada para wanita muknim untuk mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuhnya untuk mudah dikenal dan tidak diganggu.

Dalam pemaparan diatas bahwa pornografi dapat mengakibatkan terjadinya perziaan yang telah dilarang Allah untuk mendekatinya apalagi sampai melakukannya. Seperti yang tertera dalam firman Allah QS. Al-Isra’: 32, yang artinya: “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yag keji dan suatu jalan yang buruk.”

Selain beberapa ayat Al-Qur’an yang membahas tentang pornografi ada beberapa hadis yang berkaitan dengan pornografi, yang melarang berpakaian yang tembus pandang, erotis, sensual dan yang sejenisnya serta berperilaku yang tidak diinginkan, diantaranya hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Libas wa al-Zinah bab al-nisa’ al-kasiyat al-‘ariyat al-mu’ilat al-mumilat.

Rasulullah saw pernah bersabda:

حد ثنى ز هير بن حر ب حد ثنا جر ير عن سهيل عن ا بيه عن ابى هر يرة قال: قال رسول الله ص صنفان من اهل ا لنار لم ار هما؟ قوم معهم سياط كادناب البقر يضر بون بها الناس, ونساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رؤوسهن كاسنمة البخت المانلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها, وان ريحها لتوجد من مسيرة كذا وكذا. (رواه مسلم عن ابي هريرة, صحيح)

Artinya: “Telah meriwayatkan kepadaku Zubair bin Harb, telah meriwayatkan kepada kami Jarir dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: “Dua golongan termasuk ahli neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataannya) telanjang (karena mengespos aurat), jalanya berlekgak-lekgok (berpenampilan menggoda), kepada mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal bau surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”.[7] (Hadis Riwayat Muslim)

Sebagian ulama menafsirkan ما نلات adalah wanita yang sesat dari kewajiban mereka menjalankan agama dan arti مميلات adalah menyesatkan orang lain dari kewajiban menjalankan agamanya.

Uraian lengkap tentang penilaian ulama kritikus hadis terhadap sana-sanad di atas sebagai berikut:

  1. Abu Hurairah

Nama lengkapnya ialah ‘Abd al- Rahma bin Shakhr. Abu Hurairah adalah nama kunyahnya, beliau wafat 57 H/ 58 H/ 59 H. Nama-nama yang pernah diberikan beliau antara lain ‘Abd al- Rahma bin Shakhr, Ibn Ganam, Abdullah Ibn ‘Aiz dan beberapa nama lainnya.[8]

Abu Hurairah meriwayatkan hadis langsung dari Nabi saw karena beliau termasuk dalam kategori sahabat Nabi maka kapasitasnya dalam kegiatan dalam periwayatan hadis tidak perlu disanksikan lagi.[9]

 

  1. Abihi (Abu Salih)

Nama lengkapnya adalah Zakwan. Nama kunyahnya adalah Abu Salih, nama lakob: Saman, Ziyad, Al-Madani, Al-Giftani. Beliau wafat tahun 101 H.[10] Guru-gurunya dalam bidang hadis antara lain: Abu Hurairah, Abi Dardah, Abi Sa’id al-Kudri, Aqil bin Abi Thalib, Jabir, Ibn Umar, Ibn Abbas, Mu’awiyah, Aisyah, Ummu Habibah, Ummu Salamah dan banyak lagi.

Muridnya: anaknya, Salih, Abdullah, ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Abdullah bin Dinar, Suhail bin Abi Zakwan, Za’id bin Aslam dan lain-lain.[11]

Mengenai integritas pribadinya yang menyangkut ke-‘adalah-an dan ke-dabita-annya para ulama berpendapat sebagai berikut:

  • Abdullah bin Ahmad: Siqatu as-Siqah, dapat dipercaya
  • Hafsah bin Ghiyas: Siqah
  • Ibn Ma’in: Siqah
  • Abu Hatin: Siqah Salih
  • Abu Zur’ah: Siqah Mustaqim
  • Ibn Sa’id: Siqah[12]

Dari penilaian para ulama mengenai integritas pribadi beliau yang berkeaan dengan ke-‘adalah-an dan ke-dabita-annya di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak seorang ulama pun  yang menilai buruk mengenai kapasitas kepribadian beliau. Bahkan beberapa ulama menilai pribadi beliau dengan penilaian yang tertinggi, antara lain Abdullah bin Ahmad, Abu Hatim, Abu Zur’ah.

  1. Suhail

Nama lengkapnya adalah Suhail bin Abi Salih Zakwan. Nama kunyahnya adalah Abu Yazid. Beliau lahir di Madinah dan meninggal pada tahun 138 H. Gurunya Ayub bin Basyir bin Sa’ad bin Nu’man, Zakwan, Sa’id bin Abi Sa’id Kaysan, Sa’id bin Yasar, Sufyan bin Abi Yazid, ‘Atha bin Yazid dan lain-lain.

Muridnya : Abu Bakr bin Iyas bin Salim, Ismail bin Iyas bin Salim, Jarir bin Hajm bin Zayd, Zuhair bin Muhammad, Zarir bin Abdul Hamid bin Qarth dan lain-lain. Penilaian ulama mengenai beliau :

  • Sufyan bin Uyainah : Sabit
  • Muhammad bin Sa’id : Siqah
  • An-nasa’i : Laisa bihi Ba’sa
  • Ibnu Hibban : Siqah[13]

 

  1. Jarir

Nama lengkap beliau adalah Zarir bin Abdul Hamid bin Qarth. Kunyahnya adalah Abu abdillah. Beliau lahir di kuffah dan meninggal pada tahun 188 H. Gurunya Ibrahim bin Yazid bin Qais, Suhail bin Salih Zakwan, Ismail bin Abi Khalid, Bayan bin Basyar, Hubaib bin Abi Amrah, Hasan bin Amruh dan lain-lain. Muridnya : Ibrahim bin Ishaq bin Isa, Ahmad bin al-Hajjaj, Ahmad bin Muhammad bin Musa, Hasan bin Amru, Zuhair bin Harb bin Syaddad dan lain-lain.

Mengenai integritas pribadinya menyangkut keadaalahan dan kedhabitannya, para ulama berpendapat sebagai berikut :

  • An-Nasa’i : Siqah
  • Abu Hatim al-Razi : Siqah
  • Muhammad bin Sa’id : Siqah
  • Abu al-Qasim al-Laliqa’i: Siqah
  • Al-Khalal : Siqah muttafaq’alaiah[14]

Dari penilaian ulama mengenai integritas pribadinya menyangkut keadaalahan dan kedhabitannya di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidak seorang ulama pun yang menilai buruk mengenai kapasitas kepribadian beliau.

  1. Zuhair

Nama lengkap beliau adalah Zuhair bin Harb bin Syaddad. Nama kuanyahnya Haisamah. Beliau lahir d Bagdad dan wafat pada tahun 334 H.

Gurunya: Hibban bin Hilal, Hijjaj bin Muhammad, Jarir bin Hajm bin Zayd, Zarir bin Abdul Hamid bin Qarth, Hazin bin Masna, Hasan bin Musa dan lain-lain.

Mengenai integritas pribadinya yang menyangkut keadalahan dan kedhabitan, para ulama berpendapat sebagai berikut:

  • Abu Hatim al-Rozi : Saduq
  • Yahya bin Ma’in : Siqah
  • Huzain bin Fahm : Siqah Sabt
  • An-nasa’i : Siqah Ma’mun
  • Ibnu Hibban : Mutqin Dhabit
  • Al- Khatib : Siqah Sabt Hafid Mutqin[15]

 

  1. D.    Kesimpulan

Dari penelitian hadis yag berkaitan dengan tema yang penulis bahas, yang diriwayatkan oleh Muslim dan shahihnya, dari berbagai sanad yang diteliti maka hadis tersebut adalah shahih sehingga bisa diamalkan dan menjadi hujjah.

DAFTAR PUSTAKA

al-Asqalani, Syihab al-Din Ahmad bin Ibn Ali, Tahzib al-tahzib, Beirut: Dar al-Firk, 1984.

al-Bandari, Abdul Ghafar Sulaiman. Mausu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,t.th.

al-Mizi, Al-Hafid Jamal al-Din Abi al-Hajjaj Yusuf, Tahzib al-Kamal fi Asma al-Rijal, Beirut: Dark al-firk, t.th, juz XXII.

Compact Disk (CD) Mawsu’ah al-Hadits al-Syarif.

Departemen Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, t.th.

Djubaedah, Neng. Pornografi dan Pornoaksi ditinjau dari Hukum Islam, Bogor: Kencana, 2004.

Gatra, “DPR: RUU Pornografi Masih Nyangkut di Pemerintah.” http://www.gatra.com, Jakarta, 26 Juli 2004.

Hamzah, A. Pornografi dalam Hukum Pidana: Suatu Studi Perbandingan, Jakarta: Bina Mulia, 1987.

Ismail, Syuhudi Kaidah Keshahihan Sanad Hadis, Jakarta: Bulan Bintang, 1995.

Muslim, Shahih. Bandung: Syirkah al-Ma’arif, t.th, Jilid II,

Racim, Alex A.  Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1990, Jilid XIII.


[1] Gatra, “DPR: RUU Pornografi Masih Nyangkut di Pemerintah.” http://www.gatra.com, Jakarta, 26 Juli 2004

[2] A. Hamzah, Pornografi dalam Hukum Pidana: Suatu Studi Perbandingan, (Jakarta: Bina Mulia, 1987), h. 7.

[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, t.th), h. 696.

[4] Neng Djubaedah, Pornografi dan Pornoaksi ditinjau dari Hukum Islam, (Bogor: Kencana, 2004), h. 254.

[5] Alex A. Racim, Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1990), Jilid VIII, h. 337-340

[6] Neng Djubaedah, Pornografi…op.cit., h. 86.

[7] Shahih Muslim, (Bandung: Syirkah al-Ma’arif, t.th). Jilid II, h. 254-255. Penulusan hadis juga dibantu dengan menggunakan Compact Disk (CD) Mawsu’ah al-hadist al- syarif, versi terbaru dengan disertai syarah hadis dari masing-masing kitab hadis yang jumlahnya sembilan kitab hadis. Dari penulusan Compact Disk (CD) Mawsu’ah al-hadist al- syarif, didapatkan ada enam hadis yang menjelaskan tentang hadis tersebut, dengan rincian dalam shahih Muslim terdapat dua hadis (hadis no. 3971 dan 5098), dalam Musnad Ahmad bin Hambal terdapat tiga hadis (hadis no. 6786, 8311, 9303) sedangkan dalam muwatha’ Imam Malik terdapat satu hadis (hadis no. 1421).

[8] Shihab al-Din Ahmad bin Ibn Ali al-Asqalani, Tahzib al-tahzib, (Beirut: Dar al-Firk, 1984), juz XII, h. 288. Lihat juga Al-Hafid Jamal al-Din Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizi, Tahzib al-Kamal fi Asma al-Rijal, (Beirut: Dark al-firk, t.th), juz XXII, h. 90.

[9] Syuhudi Ismail, Kaidah Keshahihan Sanad Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 160-161.

[10] Abdul Ghafar Sulaiman al-Bandari, Mausu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,t.th).

[11] Ibn Hajar al-Asqalani, op.cit.,h.219.

[12] Ibid..

[13] Lihat Compact Disk (CD) Mawsu’ah al-Hadits al-Syarif..

[14] Ibid..

[15] Ibid..

Advertisements


Objek Pembahasan Psikologi Dakwah

 

  1. Pendahuluan

Dakwah merupakan suatu kewajiban setiap muslim. Sebagai seorang da’i tentu ingin mencapai kesuksesan dalam tugas dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadis). Salah satu bentuk keberhasilan dalam dakwah adalah berubahnya sikap kejiwaan seseorang. Misalnya, dari tidak cinta Islam menjadi cinta, dari tidak mau beramal saleh menjadi selalu beramal saleh ataupun dari cinta kemaksiatan menjadi benci dan tidak akan dilakukan lagi. Sehingga pada akhirnya dalam jiwanya tertanam rasa senang terhadap kebenaran ajaran Islam.

Pada proses dakwah yang bermaksud untuk mengubah sikap kejiwaan seorang mad’u, maka pengetahuan tentang psikologi dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Jika dilihat dari segi psikologi bahwa dakwah dalam prosesnya dipandang sebagai pembawa perubahan, atau suatu proses. Dari segi dakwah, psikologi banyak memberi jalan pada tujuan dakwah pemilihan materi dan penetapan metodenya. Bagi seorang da’i dengan mempelajari metode psikologi yang mana psikologi dapat memungkinkan mengenal berbagai aspek atau prinsip yang dapat menolongnya dalam meneliti tingkah laku manusia dengan lebih kritis dan juga dapat memberikan kepadanya pengertian yang lebih mendalam tentang tingkah laku dan juga psikologi memberikan jalan bagaimana menyampaikan materi dan menetapkan metode dakwah kepada individu manusia yang merupakan makhluk yang berjiwa dan memiliki kepribadian.[1]

Psikologi dakwah yang merupakan gabungan dari dua disiplin ilmu yang berbeda, yaitu psikologi adalah ilmu yang membahas mengenai gejala-gejala kejiwaan individu yang dapat diketahui melalui tingkah lakunya. Dan dakwah adalah sebuah proses penyampaian ajaran Islam kepada seseorang sehingga melakukan amar ma’ruf nahi munkar untuk menuju ke jalan Allah agar tercapainya kebahagian dunia dan akhirat. Jadi, psikologi dakwah yaitu suatu disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan melalui tingkah laku yang sesuai amar ma’ruf nahi munkar.

Dari gabungan dua disiplin ilmu yang berbeda, maka psikologi dakwah tentunya memiliki objek pembahasan tersendiri yang berbeda dari ilmu-ilmu yang lainnya. Dalam kamus ilmiah, objek berarti sasaran, hal perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.[2] Ahmad Mubarak menganggap psikologi dakwah sebagai ilmu yang berusaha mneguraikan, meramalkan dan mengendalikan tingkah laku manusia yang terkait dengan proses dakwah.[3]

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa hal yang menjadi pokok pembahsan dalam makalah kami psikologi dakwah yang menyangkut objek pembahasan pada psikologi dakwah, yaitu, pertama, apa yang menjadi objek pembahasan dalam psikologi dakwah?. Kedua, bagaimana hubungan antara kedua objek pembahasan tersebut?

  1. Objek pembahasan psikologi dakwah

Dalam ruang lingkup pembahasan maka psikologi dakwah memiliki tugas untuk memberikan kepada kita suatu pengertian tentang pentingnya memahami tingkah laku manusia, bagaimana memprediksikan serta mengontrolnya. Dengan demikian psikologi dakwah terdapat pendekatan analisis terhadap tingkah laku manusia dari berbagai aspek ilmu yang bersumber pada pandangan psikologi perorangan maupun dalam masyarakat. Proses pelaksanaan kegiatan dakwah dalam masyarakat atas landasan psikologi dakwah akan dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan oleh manusia sebagai individu dan sebagai makhluk sosial.[4]

Dalam ilmu dakwah objek dakwah terbagi menjadi objek material yang mencakup ajaran pokok agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadis serta dapat diiwujudkan dalam semua aspek kegiatan dan kehidupan umat Islam dalam sepanjang sejarah Islam. Sedangkan pada objek formal meliputi aspek yang berhubungan dengan kegiatan mengajak umat manusia agar beramar ma’ruf  nahi munkar sehingga umat manusia mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya dalam semua segi kehidupan manusia. Adapun pendapat dari Syukriadi Sambas yang menyatakan bahwa objek material ilmu dakwah adalah perilaku keislaman dalam berislam yang sumber pokoknya Al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan objek formalnya adalah aspek spesifik mengenai perilaku keislaman dalam melakukan dakwah baik dalam bentuk Tabligh, Irsyad, Tadbir dan Tathwir.[5]

Dalam pandangan psikologi, George a miller menyatakan bahwa psikologi mempunyai objek pembahasan yang berupa mental atau jiwa manusia secara luas. Pembahasannya bersifat ilmiah yang didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh metode ilmiah pula. Hal ini berbeda dengan William james yang membatasi objek pembahasan psikologi pada jiwa sadar manusia sehat, terdidik dan sebagainya. Yang djadikan objek penelitiannya adalah tingkah laku yang berhubungan dengan proses penyesuaian diri. Tingkah laku tersebut bertujuan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup biologis sebagai makhluk individual dan tuntutan hidup sosial sebagai makhluk sosial.[6]

Pada psikologi dakwah memiliki teori serta prinsip-prinsip dan sudut pandang secara khusus yang berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya serta objek pembahasannya. Dilihat dari objek pembahasannya terbagi menjadi objek material dan objek formal. Pada objek material, yaitu sesuatu realitas atau fakta-fakta yang dibahas oleh suatu ilmu. Sedangkan objek formal adalah suatu sudut pandang yang spesifik terhadap suatu masalah yang diungkapkan secara mendalam oleh suatu disiplin ilmu.[7]

  1. Objek material psikologi adalah manusia sebagai makhluk yang berjiwa dan objek material dakwah adalah manusia sebagai makhluk yang berketuhanan. Jadi objek material psikologi dakwah, yaitu manusia sebagai makhluk yang memiliki jiwa  dan berketuhanan sesuai dengan ajaran Islam.
  2. Objek formal psikologi adalah tingkah laku manusia yang dilihat dari gejala-gejala kejiwaannya. Sedangkan objek formal dakwah adalah manusia sebagai individual ataupun sosial untuk diarahkan menuju kejalan Allah. Jadi objek psikologi dakwah adalah manusia dengan segala tingkah lakunya yang terlibat dalam proses dakwah.[8]

Dalam objek pembahasan psikologi dakwah masalah tingkah laku manusia dilihat dari segi interaksi dan interrelasi serta interkomunikasinya dengan manusia lain dalam hidup kelompok sosial di samping masalah hidup individual dengan kelainan-kelainnya yang mendasar dan menyeluruh, oleh karena manusia adalah makhluk sosial dan makhluk individual.[9]

Objek psikologi dakwah yaitu manusia yang memiliki sikap dan tingkah laku yang berbeda satu dengan yang lain. Masing-masing individu memiliki karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh orang tua maupun lingkungan. Begitu juga da’i ada yang berpikiran sempit dan ada yang luas, da’i tidak cukup hanya menguasai materi dakwah tetapi harus memahami karakteristik mad’u. Psikologi dakwah membantu para da’i memahami latar belakang hidup naluri manusia sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial. Dengan pemahaman tersebut para da’i akan mampu menghitung, mengendalikan serta mengarahkan perkembangan modernisasi masyarakat terhadap pengaruh teknologi modern yang positif.

  1. Hubungan antara objek pembahasan psikologi dan dakwah

Psikologi dakwah merupakan psikologi terapan maka ruang lingkup pembahasannya pun berada dalam proses kegiatan dakwah dimana sasarannya adalah manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dan melibatkan sikap dan kepribadian da’i dalam menghadapi mad’u, yaitu manusia yang mempunyai sikap dan kepribadiaan pula. Sehingga akan terlihat adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara da’i dengan mad’u agar terwujudlah suatu rangkaian proses komunikasi yang berupa motivasi dakwah yang disampaikan oleh da’i dengan sikap dan kepribadiaannya ke arah mad’u, yaitu manusia melalui proses belajar sehingga timbul perubahan sikap dan tingkah laku berupa pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama.[10]

Dalam melaksanakan proses dakwah akan menghadapi berbagai keragaman dalam berbagai hal, seperti pikiran-pikiran, pengalaman, kepribadian atau watak, dan lain-lain. Keragaman tersebut akan memberikan corak dalam menerima pesan dakwah karena itulah untuk mengefektifkan seorang da’i ketika penyampaikan pesan dakwah kepada mad’u diperlukan memahami segi psikologis  dan mempelajari tentang kejiwaan seseorang. Pengembangan psikologi dakwah melalui penganalisisan tentang aspek hidup kejiwaan sosial juga menjadi dasar yang sangat penting untuk diterapkan dalam proses kegiatan dakwah di mana da’i dan mad’u merupakan faktor yang terlibat didalamnya.

Dengan psikologi maka proses dakwah yakni mempengaruhi watak dan membentuk akhlakul kharimah. Sehingga melahirkan manusia yang berakhlak sesuai dengan ajaran Islam. karena sebenarnya dakwah adalah suatu proses pembentukan watak atau kepribadian manusia. Oleh karena itu, harus menempuh pendekatan psikologi agar tujuan dakwah dapat tercapai.[11]

Setiap ilmu pengetahuan selau memiliki objek material maupun formal. Objek material ilmu psikologi dakwah lebih menekankan pada aspek psikologisnya yang memiliki kesamaan seperti halnya objek psikologi pada umumnya. Namun disisi lain pembahasannya ditekankan pada aspek dakwah maka objek psikologi dakwah sama dengan objek yang menjadi pokok pembahasannya dalam ilmu dakwah.[12]

Dalam psikologi dakwah selain membahas tentang kegiatan rohaniah manusia dilihat dari aspek individualitasnya juga menganalisis kegiatan rohaniah manusia dilihat dari aspek sosialitasnya. Kedua aspek tersebut, terlihat dalam proses kegiatan dakwah dimana psikologi dakwah memberikan petunjuk dan pengertian tentang situasi dan kondisi kejiwaan objek tersebut.[13]

Psikologi dan dakwah yang memiliki kaitan yang sama mengenai jiwa manusia. Dalam Islam juga telah terdapat konsep sendiri tentang manusia serta unsur-unsurnya sehingga islam dan jiwa saling berkaitan.

  1. Kesimpulan

Dari penjabaran makalah kami diatas mengenai objek pembahasan psikologi dakwah dapat kami simpulkan:

  1. Dalam objek pembahasan psikologi dakwah terbagi menjadi dua, yaitu objek material yang membahas mengenai realitas kehidupan manusia sebagai makhluk yang berjiwa dan berketuhanan sesuai dengan ajaran Islam (Al-Qur’an dan Hadis). Pada objek formal, yaitu membahas secara khusus mengenai gejala-gejala perilaku kejiwaan manusia yang berhubungan dengan proses dakwah untuk beramar ma’ruf nahi munkar agar menuju ke jalan Allah.
  2. Psikologi dan ilmu dakwah memiliki hubungan yang sangat erat sebab objeknya sama-sama membahas mengenai manusia. Dalam hal ini adalah gejala-gejala perilaku kejiwaan dan kepribadiaanya, baik manusia sebagai individual maupun sosial. Sehingga dengan melihat dari segi psikologisnya maka dalam proses dakwah dapat dicapai suatu tujuan secara efektif.
  1. Saran

Dengan adanya wawasan tentang psikologi dakwah maka da’i bisa mengetahui seberapa berhasilnya proses dakwah sehingga direspon oleh mad’unya. Dan ketika dalam proses dakwah da’i sudah dapat menentukan metode, media yang dipandang cocok dengan mad’u yang akan dihadapinya. Kegiatan dakwah ini dapat berlangsung lancar dan baik, diperlukan pengetahuan tentang psikologi dakwah. Karena kegiatan dakwah pada dasarnya merupakan kegiatan penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

Enjang dan Aliyudin, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, Bandung: Widya Padjadjaran, 2009.

Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, Surabaya: Offset INDAH, 1993.

M. Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Penganatar Studi, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: ARKOLA, 1994.


[1] Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, (Surabaya: Offset INDAH, 1993), h. 67.

[2] M Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: ARKOLA, 1994), h. 531.

[3] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, cet. I), h. 3.

[4] M Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Penganatar Studi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004, cet.VI), h. 10.

[5] Enjang dan Aliyudin, Dasar-dasar Ilmu Dakwah, (Bandung: Widya Padjadjaran, 2009), h. 28-29.

[6] M Arifin, op.cit.,h. 14-15.

[7] Enjang dan Aliyudin, op.cit., h. 27.

[8] Jamaluddin Kafie, loc.cit., h. 6-7.

[9] M Arifin, op.cit., h. 16.

[10] Ibid., h. 17.

[11] Jamaluddin Kafie, op.cit., h. 69.

[12] Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2209, cet. II), h. 10.

[13] Ibid., h. 34-35.

PENGARUH AL-QUR’AN TERHADAP JIWA

 

  1. PENDAHULUAN

 

Al-Qur’an adalah rahmad Allah yang terbesar untuk umat manusia. Al-Qur’an adalah pemenuhan janji-janji Allah terhadap adam dan keturunannya.[1]

$oYù=è% (#qäÜÎ7÷d$# $pk÷]ÏB $YèŠÏHsd ( $¨BÎ*sù Nä3¨YtÏ?ù’tƒ ÓÍh_ÏiB “W‰èd `yJsù yìÎ7s? y“#y‰èd Ÿxsù ì$öqyz öNÍköŽn=tæ Ÿwur öNèd tbqçRt“øts† ÇÌÑÈ

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (al-Baqarah : 38)

Al-Quran adalah satu-satunya senjata untuk menolong keberadaan diri manusia yang rapuh saat berjuang menghadapi kekuatan-kekuatan syetan dan godaan-godaan dunia ini. Dia pula satu-satunya cara untuk mengatasi ketakutan dan kekhawatiran manusia. Dialah satu-satunya cahaya (nur) saat manusia meraba-raba dalam kegelapan, dengannya untuk menemukan cara kepada kesuksesan dan keselamatan. Dialah satu-satunya obat (asy-syifa) bagi penyakit dalam diri manusia dan penyakit-penyakit sosial yang dapat berada di sekeliling manusia. Dan dialah (Al-Quran) pengingat (adz-dzikru) dari tujuan dan sifat manusia yang sebenarnya, dari tempat, pekerjaan, pahala-pahala, dan dosa-dosa manusia.

Al-Quran adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumbernya yang asli dalam ayat-ayat Al-Quran [2] sebagaimana Allah berfirman : “Kami menurunkan AI-Quran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS 16:89). Demikianlah batapa sempurnanya Al-Quran ini yang tidak di turunkan hanya untuk orang-orang tertentu saja melainkan semua umat manusia, baik bangsa Arab atau bukan.

Dari perspektif tersebut, dapat kami rumuskan permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah : 1) Bagaimana pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa? 2) Bagaimana fungsi Al-Qur’an sebagai asy-syifa bagi jiwa manusia?

 

  1. Penjelasan jiwa (An-Nafs)

 

An-Nafs (jiwa) memilii beberapa arti, yaitu :[3]

1)        Mengandung makna yang mencakup kekuatan ghadhab (marah) dan syahwat dalam diri manusia. Makna ini biasa digunakan oleh ahli tasawwuf, sebab bagi mereka nafs adalah pokok yang mencakup segala sifat buruk dalam diri manusia.

2)        Nafs dalam arti “sesuatu yang lembut”. Nafs ini disifati dengan beragam sifat sesuai dengan keadaan jiwa. Jika nafs ini berada dibawah perintah, bertentangan dengan syahwat, maka dinamakan nafsu muthma’innah (jiwa yang tenang.

Jiwa adalah sesuatu yang bersifat abstrak, yang sangat susah untuk mengenalinya. Salah satu cara untuk mengenali jiwa adalah dengan mengobservasi perilakunya, walaupun perikalu bukan merupakan pencerminan dari jiwa secara keseluruhan.[4]  Allah menerangkan di dalam Al-Quran :

štRqè=t«ó¡o„ur Ç`tã Çyr”9$# ( È@è% ßyr”9$# ô`ÏB ̍øBr& ’În1u‘ !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.(QS. Al-Isra’ : 85)

Sebagian para ahli sependapat bahwa untuk mempelajari jiwa seseorang di gunakanlah ilmu yang disebut psikologi. Walaupun di dalam Al-Quran Allah telah memberi penjelasan (seperti ayat di atas), bukan berarti menutup kemungkinan untuk mengkaji tentang jiwa.

  1. C.     Pengaruh Al-Quran terhadap jiwa

 

Al-Quran sebagai salah satu mu’jizat mengandung banyak sekali faedah bagi umat manusia. Salah satunya adalah Al-Quran dapat di jadikan sebagai obat (Asy-Syifa). Banyak sekali orang mencari ketenangan di luar sana untuk menenangkan jiwanya. Gangguan kepribadian ini disebabkan adanya serangkaian tingkah laku yang menyimpang dari fitrah manusia yang telah ditetapkan Allah SWT.[5] Penyimpangan tersebut yang mengakibatkan penyakit dalam jiwa seseorang, yang apabila mencapai puncaknya mengakibatkan terkuncinya atau kematian Qolbu. Imam Al-Ghazali pernah berkata: “akhlak yang buruk merupakan penyakit hati dan penyakit jiwa”.[6]

Banyak orang yang  lupa akan adanya obat yang sangat mujarab bagi penyakitnya itu. Al-Quran dapat di jadikan sebagai obat dengan cara membacanya dengan disertai pemaknaan. Ia dapat memberi ketenangan pada jiwa.

 

 

 

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isro’: 82)

 

  1. Terapi dengan Al-Quran

1)      Penguasaan terhadap marah

Al-Quran mewasiatkan kepada kita agar mengontrol emosi marah, sebab ketika manusia marah pikirannya menjadi macet dan hilang kemampuannya untuk mengeluarkan hukum yang benar. Rasulullah SAW berpesan kepada kaum muslimin agar mereka mengendalikan rasa marah. Abu Hurairah berkata, Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, Berilah saya wasiat! Rasulullah berkata : “Engkau jangan marah”!! lelaki itu ,mengulangi permintaannya beberapa kali, dan beliau jawabannya serupa, “Engkau jangan marah”!![7]

Rasulullah mengajari sahabatnya bagaimana mengontrol kemarahan. Dengan hikmahnya yang sangat besar dan pengetahuannya yang mendalam mengenai karakter manusia, beliau memberikan kiat-kiat praktis dan efektif yang dapat diterapkan untuk mengontrol emosi. Dari sinilah semakin terbukti bahwa Rasulullah sangat mengetahui tabiat dan karakter manusia.

Salah satu peredam kemarahan adalah relaksi tubuh dan melepaskan ketegangan. Jika kondisi tubuh kembali normal, gejolak marah akan lenyap. Rasulullah mengajarkan agar para sahabat duduk, jika saat marah dalam keadaan berdiri. Jika belum juga meredam kemarahannya, memerintahkan agar berbaring.[8] Wudhu adalah termasuk salah satu kiat yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat untuk mengendalikan marah. “Sungguh marah adalah syetan. Dan sungguh syetan diciptakan dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, wudhulah”.[9]

2)        Mengendalikan rasa sedih

Rasa sedih merupakan salah satu letupan emosi yang dirasakan seseorang saat ia kehilangan orang yang disayanginya, atau sesuatu yang sangat penting dan bernilai baginya. Saat sedih orang akan merasa keruh dan tidak lapang. Karena itu, manusia akan selalu menghindari rasa sedih dan tidak akan menyukainya. Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari rasa sedih, sebagaimana tercantum dalam doanya : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih…..”[10]

Rasulullah mengajak kaum muslimin agar mampu mengendalikan kesedihan ketika ditimpa musibah. Mengendalikan rasa sedih bukan berarti tidak menangis dan tidak merasa sedih hati. Karena menangis dan bersedih hati adalah hal yang fitrah yang diperbolehkan dan tidak berbahaya. Yang dimaksud mengendalikan rasa sedih adalah mencegah agar kesedihan itu tidak menjadi berlebihan, misalnya dengan memukul-mukul tubuhnya dan menyobek pakaiannya.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah menemui putranya Ibrahim yang sedang  menghadapi maut, kedua  mata beliau berkaca-kaca. Lantar Abdurrahman bin Auf  berkata Engkaupun menangis ya Rasulullah? Beliau menjawab, wahai putra Auf, sesungguhnya ini adalah air mata kasih. Sesungguhnya mata mengeluarkan air mata dan bersedih, tetapi kitda tidak mengatakan sesuatu selain yang diridhai Tuhan kita. Dan kami wahai Ibrahim, bersedih karena berpisah denganmu”.[11]

Masih banyak lagi penyakit-penyakit yang dapat mengganggu ketenangan jiwa. Namun penulis hanya memaparkan beberapa saja. Hakikatnya, segala penyakit berawal dari hati. Jika hati baik, maka akan baik seluruhnya. Qolbu yang sehat dan diberi asupan keimanan dan Al-Quran akan menguatkan, mengukuhkan, menggembirakan, dan menyenangkan serta memberi semangat dan memantapkan Qolbu. Qolbu dan tubuh masing-masing memerlukan pemeliharaan dan perawatan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Jasad tubuh memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan memerlukan antibody untuk menghindari hal-hal yang membahayakan. Begitu juga halnya dengan Qolbu, ia akan tumbuh berkembang dan menjadi sempurna kesehatannya harus dengan sesuatu yang baik pula. Tidak ada  jalan lain untuk mencapainya kecuali melalui Al-Quranul karim.

  1. E.     PENUTUP


Dari ulasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa Al-Quran sebagai mu’jizat dapat memberikan ketenangan tersendiri bagi jiwa yang dilanda kesedihan dan penyakit-penyakit lainnya. Dengan membaca dan memaknai, ketenangan itu akan hadir di dalam jiwa. Al-Quran dapat membawa manusia kepada jiwa yang terang. Dan Al-Quran juga merupakan cakupan makanan bagi hati dan jiwa.

Segala penyakit datangnya dari hati manusia. Dan penyakit hati hanya dapat disembuhkan melalui terapi Quran. Dengan jalan menjadikan Quran sebagai bacaan rutin setiap hari, hati akan terasa lebih tenang. Al-Quran akan memberikan power dari dalam diri kita untuk menghadapi rangsangan dari luar. Al-Quran juga dapat meluluhkan hati yang selalu keras. Untuk itu jadikan Al-Quran sebagai bahan bacaan yang selalu dibaca setiap hari. Ambillah Al-Quran yang selama ini hanya dijadikan bahan pajangan di lemari-lemari anda, dan sudah saatnya Al-Quran yang sebagai Syifa ini selalu menghiasi kehidupam kita.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Salim,Husain,Ahmad.Terapi Al-Quran. Astra Buana Sejahtera:Jakarta, 2006.

Sobur,Alex.Psikologi Umum. Pustaka Setia:Bandung, 2003.

Mujib,Abdul.Kepribadian Dalam Psikologi Islam.Rajagrafindo Persada:Jakarta.2006.

Murad,Khurra.Membangun Generasi Qur’ani. Media Da’wah:Jakarta, 1999.

Thabathaba’I,M.H,Allamah. Mengumgkap Rahasia Al-Quran. Penerbit Mizan:Jakarta,1997.

Najati,Usman,Muhammad.The Ultimate Psychology. Pustaka HIdayah:Bandung,2008.

 

 


[1] Khurram Murad, Membangun Generasi Qur’ani, (cet.I., Media Da’wah: Jakarta, 1999) h.16.

[2] M.H Allamah Thabathaba’I, Mengumgkap Rahasia Al-Quran, (Jakarta,1997) h.8.

[3] Ahmad Husain Ali Salim. Terapi Al-Quran, (cet.I., Astra Buana Sejahtera:Jakarta,2006)h.12.

[4]Alex Sobur. Psikologi Umum,(cet.I. Pustaka Setia:Bandung, 2003)h.22.

[5]Abdul Mujib. Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Rajagrafindo Persada:Jakarta,2006) h.351.

[6] Ibid.hal. 352

[7] HR. Bukhari, Malik dan Tirmidzi (An-Nawawi, vol.I, hal.533, hadits no.639/8)

[8] Muhammad Usman Najati, The Ultimate Psychology,(cet.I.,Pustaka HIdayah: Bandung, 2008) h.128.

[9] HR. Abu Dawud, vol. IV, hal. 249, hadits no. 4783

[10] HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad (Wansinck, vol. I, hal. 461)

[11] HR. Bukhari (An-Nawawi, vol. I, hal. 700, hadits no. 927/3)

KONFLIK ANTARUMAT BERAGAMA DAN

ANCAMAN DISINTEGRASI ENTITAS KEMANUSIAAN

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai suatu sosok masyarakat yang pluralistik yang memiliki banyak kemajemukan dan keberagaman dalam hal agama, tradisi, kesenian, kebudayaan, cara hidup dan pandangan nilai yang dianut oleh kelompok-kelompok etnis dalam masyarakat Indonesia.[1] Pada suatu sisi pluralistik dalam bangsa Indonesia bisa menjadi positif dan konstruktif tetapi di sisi lain juga bisa menjadi sebuah kekuatan yang negative dan destruktif yang dapat berakibat pada disintegrasi bangsa. Kenyataannya sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism. Hal ini adalah realitas, karena itu mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri, dengan mengakui adanya religious pluralism dalam masyarakat Indonesia.[2]

Dewasa ini umat beragama dihadapkan pada tantangan munculnya benturan-benturan atau konflik di antara mereka. Konflik antarumat beragama yang terjadi di tanah air semakin memprihatinkan. Bahkan dengan adanya konflik-konflik baru akan bisa merambah ke daerah lain kalau masyarakat mudah menerima isu dan terprovokasi.[3] Yang paling aktual adalah konflik antarumat beragama di Poso.

Di dalam konflik antaragama itu sendiri muncul tindakan yang justru bertentangan dengan ajaran agama, dikarenakan emosi yang tidak dapat terkendali sehingga dengan mudahnya mereka bertindak anarki di luar ajaran agama. Jika dikaitkan antara ajaran agama dan tingkah laku umat yang membakar tempat ibadah dan membunuh sesama umat sungguh sangat kontroversial. Padahal semua agama mengajarkan betapa pentingnya kerukunan dan kedamaian. Kalau pun terjadi konflik antarumat beragama, maka bukanlah ajaran agamanya yang salah namun umat itu sendirilah yang sempit dalam  memahami ajaran agama.

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat kami rumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam pembahasan, antara lain:

  1. Apa faktor-faktor yang menyebabkan konflik antarumat beragama yang dapat memicu ancaman disintegrasi entitas kemanusian?
  2. Bagaimana hubungan antarumat beragama dengan konflik yang terjadi antarumat?
  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulis dalam pembahasan makalah mengenai Konflik antarumat beragama dan ancaman disintegrasi entitas kemanusiaan, antara lain mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan konflik antarumat beragama yang dapat memicu ancaman disintegrasi kemanusian dan mengetahui hubungan antarumat beragama dengan konflik tersebut sehingga pada akhirnya dapat terjalin toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Faktor-faktor terjadinya Konflik antarumat Beragama

Terjadinya konflik tidak terlepas dari adanya dalang atau provokatornya tidak pernah diusut tuntas. Sehingga wajar jika masyarakat menuntut pemerintah bertindak tegas menangkap provokatornya. Dari berbagai kerusuhan, teror, fitnah dan pembunuhan memang sedang melanda bangsa kita sehingga untuk menghadapi berbagai bencana tersebut, maka semua pihak hendaknya senantiasa waspada. Sebab, berbagai cara akan dilakukan oleh provokator untuk mengadu domba antarumat beragama, antarsuku dan antaretnis sehingga persatuan dan kesatuan menjadi rapuh.[4] Oleh karena itu, setiap umat beragama senantiasa berpegang teguh pada ajaran agamanya, agar mereka tidak akan terjebak pada isu-isu yang melayang.

Konflik antarumat bergama yang berkepanjangan kalau terus dibiarkan akan menjadi petaka yang cukup besar yang dapat mengancam kesatuan bangsa. Ancaman disintegrasi bangsa sudah dekat dihadapan mata, manakala konflik antarumat bergama tidak segera diatasi. Padahal para tokoh pendiri bangsa ini awal kemerdekaan bisa menjadikan perbedaan agama sebagai perekat tali persatuan bangsa. Simbol Negara Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yakni komitmen menjalin  keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

Munculnya konflik antarumat beragama karena berbagai aspek, seperti ada kecurigaan antar pemeluk agama yang satu terhadap pemeluk agama yang lain. Selain itu ada juga permainan politik kotor yang ingin mengadu domba umat beragama untuk kepentingan politik tertentu. Kecurigaan antara pemeluk agama yang sudah terpendam lama begitu mudah dimanfaatkan oleh politikus yang tidak bermoral untuk membuat konflik berkepanjangan. Rakyat yang awam pada permainan politik akhirnya hanya menanggung korban, baik harta maupun jiwa.

Selama ini konflik-konflik yang terjadi antarumat beragama, bisa jadi disebabkan oleh faktor ketidakadilan. Di antaranya dalam hal kesenjangan ekonomi antarpenganut agama. Hal itu juga tampak dalam perlakuan politik berdasarkan agama yang dianut, terutama di masa rezim Orde Baru, di mana demi memperoleh dukungan politik, rezim itu memberikan posisi-posisi strategis kepada elite-elite dari agama tertentu. Perlakuan kurang adil itu bisa memancing kecemburuan dari satu kelompok terhadap kelompok lain. Apalagi antara umat beragama kurang intens mengadakan dialog agama, perlakuan tak adil demikian tambah membuka peluang terjadinya konflik. Ini terjadi karena masalah agama adalah sangat sensitif bagi para pemeluknya. Sedikit saja ada gesekan, bisa membuat penganutnya terkena emosi. Dan karena alasan fanatisme, hal itu dapat membuat tindakan mereka sulit dikontrol.[5]

Faktor-faktor yang menyebabkan konflik antarumat beragama karena kurangnya untuk saling memahami dan menghargai agama lain serta umat beragama lain sehingga dalam kehidupan umat beragama tidak adanya saling menghargai hakikat dan martabat manusia di mana nilai-nilai kemanusiaan yang universal tidak berlaku lagi dalam menjalin hubungan yang harmonis antarumat beragama tersebut, terutama hati nurani dan cinta kasih bagi kerukunan, toleransi dan persatuan dalam kemajemukan umat beragama.

Konflik antar-umat beragama umumnya tidak murni disebabkan oleh faktor agama, melainkan oleh yang lainnya, seperti faktor ekonomi, politik, maupun sosial. Konflik ini tidak jarang terjadi karena persoalan pendirian rumah ibadah atau cara penyiaran agama yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Atau karena adanya salah paham di antara pemeluk agama. Konflik internal umat beragama terjadi karena adanya pemahaman yang menganggap hanya aliran sendiri yang benar dan menyalahkan yang lain, pemahaman yang diselewengkan atau pemahaman yang bebas semau sendiri tanpa mengikuti kaidah-kaidah yang ada. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap pluralisme melahirkan karakter apatis dan puritan terhadap toleransi beragama.[6]

  1. Hubungan antarumat beragama dan Konflik

Semua agama di dunia mengajarkan kepada setiap umatnya untuk saling mengasihi dan menghormati pemeluk agama lain. Namun realita yang terjadi dalam sejarah umat manusia, agama sering dijadikan dalih untuk membantai pemeluk agama yang lain. Masih segar di dalam ingatan kita betapa berdarah-darahnya saudara-saudara kita bertikai atas nama agama, seperti di Ambon dan Poso. Semua konflik ini terjadi karena fanatisme sempit, dan kecurigaan yang berlebihan terhadap pemeluk agama lain.

Kenyataan bahwa unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu serentak sasaran konflik, baik pada tingkat lokal dan nasional maupun internasional akhir-akhir ini, tentu memprihatinkan dan mencemaskan banyak orang, terutama bagi kita bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Maluku khususnya, yang berciri majemuk. persaudaraan, kekeluargaan, kerukunan, perdamaian dan ketenteraman serta kebersamaan, persekutuan dan kerjasama akan terancam, terganggu dan merosot. Timbul kecemasan akan konflik, kekerasan, perpecahan dan kehancuran yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Cukup banyak orang cemas akan ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa, atau akan terjadinya disintegrasi bangsa, yang dipicu dengan isu agama.

Karena itu, untuk mencapai kerukunan beragama yang harmonis, kiranya dialog antarumat beragama perlu diadakan secara intensif agar tercipta saling pengertian antarkomunitas agama. Saling pengertian itu akan memungkinkan antarkelompok saling menghormati. Keadaan itu pada gilirannya akan menumbuhkan dan mengembangkan sikap toleran serta memantapkan kerukunan antarumat beragama.

Dialog antaragama itu hanya bisa dimulai bila ada keterbukaan sebuah agama terhadap agama lainnya. Persoalannya mungkin baru muncul bila kemudian mulai dipersoalkan secara terperinci apa yang dimaksud keterbukaan itu, segi-segi mana dari suatu agama yang memungkinkan dirinya terbuka terhadap agama lain, pada tingkat mana keterbukaan itu dapat dilaksanakan. Lalu, dalam modus bagaimana keterbukaan itu bisa dilakukan.[7]

Barangkali penyelesaian konflik anatarumat Bergama harus dimulai dengan menghilangkan rasa saling curiga dan dendam antarsesama. Kalau kecurigaan dan dendam bisa dihilangkan barulah melangkah pada dialog yang efektif yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Dialog tersebut sesungguhnya bukan lagi terbatas pada tokoh-tokoh agama, namun lapisan masyarakat bawah. Tokoh-tokoh agama sesungguhnya sudah sejak lama menjalin dialog agama, namun belum teraktualisasikan pada lapisan bawah. Bahkan yang lebih memperihatinkan lagi, wibawa tokoh-tokoh agama tampaknya sudah semakin berkurang dihadapan umatnya. Ini bisa dilihat dengan adanya keengganan umat mengikuti himbauan tokoh-tokoh agama. tatkala terjadi konflik, tokoh-tokoh agama sudah menghimbau umatnya masing-masing untuk rukun namun kenyataannya konflik terus berkepanjangan.[8]

Mukti Ali menjelaskan bahwa ada beberapa pemikiran diajukan orang untuk mencapai kerukunan dalam kehidupan beragama. Pertama, sinkretisme, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Kedua, reconception, yaitu menyelami dan meninjau kembali agama sendiri dalam konfrontasi dengan agama-agama lain. Ketiga, sintesis, yaitu menciptakan suatu agama baru yang elemen-elemennya diambilkan dari pelbagai agama, supaya dengan demikian tiap-tiap pemeluk  agama merasa bahwa sebagian dari ajaran agamanya telah terambil dalam agama sintesis (campuran) itu. Keempat, penggantian, yaitu mengakui bahwa agamanya sendiri itulah yang benar, sedang agama-agama lain adalah salah dan berusaha supaya orang-orang yang lain agama masuk dalam agamanya. Kelima, agree in disagreement (setuju dalam perbedaan), yaitu percaya bahwa agama yang dipeluk itulah agama yang paling baik, dan mempersilahkan orang lain untuk mempercayai bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik. Diyakini bahwa antara satu agama dan agama lainnya, selain terdapat perbedaan, juga terdapat persamaan.[9]

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa setiap umat beragama yang menghargai kemajemukan (pluralitas) masyarakat dan bangsa serta mewujudkannya dalam suatu keniscayaan sehingga dapat saling menjaga kerukunan hidup antarumat beragama. Yang terlihat di sini agama sebagai pemicu atau sumber dari konflik. Sangatlah ironis konflik yang terjadi padahal suatu agama pada dasarnya mengajarkan kepada para pemeluknya agar hidup dalam kedamaian, saling tolong menolong dan juga saling menghormati serta menjaga tali persaudaraan antar sesama umat beragama.

Dalam perbedaan agama semestinya tak perlu menjadi konflik manakala masing-masing umat beragama memahami ajaran agama secara mendalam. Sebab selain perbedaan yang ada antaragama, sesungguhnya juga terdapat banyak persamaan. Apalagi ditambah adanya dialog yang intens untuk sama-sama memperjuangkan masalah sosial kemanusiaan. Peluang konflik dengan sendirinya akan makin kecil jika masing-masing umat beragama mau melakukan kerja sama dalam masalah sosial-kemanusiaan.

  1. Saran

Akhirnya semua pihak  hendaknya perlu merenung dampak negetaif dari konflik yang berkepanjangan. Dengan pikiran yang jernih kita semua mengakui bahwa tidak ada pihak yang memperoleh keuntungan dalam konflik. Untuk itu kita perlu kembali pada ajaran agama yang lurus. Sikap toleransi dan  sikap pluralisme serta perlunya memahami pesan Tuhan, merupakan upaya untuk mencari solusi bagaimana umat beragama bisa hidup damai dan harmonis

DAFTAR PUSTAKA

Ismail, Faisal. Islam Idealitas Ilahiyah dan Realitas Insaniyah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 1999.

Muhammad Imarah,Muhammad.  Islam dan Pluralitas (Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan). Jakarta: Gema Insani, 1999.

Hamdan Daulay, Hamdan. Dakwah di Tengah Persoalan Budaya dan Politik. Yogyakarta: LESTI, 2001

Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

Ali, A. Mukti. Ilmu Perbandingan Agama, Dialog, Dakwah dan Misi.  Jakarta : INIS, 1992.

http://suaramerdekawacana.com

By_ YUNIATI RATNA SARI


[1] Faisal Ismail, Islam Idealitas Ilahiyah dan Realitas Insaniyah, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), cet. I, h. 193

[2] Muhammad Imarah, Islam dan Pluralitas (Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan), (Jakarta: Gema Insani, 1999), cet 1, h. 11

[3] Hamdan Daulay, Dakwah di Tengah Persoalan Budaya dan Politik, (Yogyakarta: LESTI, 2001), cet. I, h. 137

[4] Hamdan Daulay, op.cit., 138

[5] Diakses, di http://suaramerdekawacana.com pada tanggal 15 Mei 2011

[6] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), cet.IV, h. 174

[7] Ibid.,, h. 177-179

[8] Hamdan Daulay, op.cit., 140

[9]A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, Dialog, Dakwah dan Misi, (Jakarta : INIS, 1992), h. 227-229.

PERAYAAN HARI-HARI BESAR ISLAM DAN NILAI SPIRITUAL BAGI UMAT ISLAM

  1. A.     Latar Belakang

Betapa banyak krisis moral yang melanda umat dewasa ini, maraknya korupsi, kolusi, manipulasi, perkosaan, pembunuhan sesame manusia dan masih banyak lagi adalah merupakan nestapa kelam dalam peradaban manusia. Tampaknya manusia sudah semakin berani menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sehingga nilai-nilai agama yang begitu luhur sudah tercerabut dari batin manusia.

Ditengah derasnya arus modernisasi dewasa ini, nampaknya agama tidak lagi dijadikan manusia sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia itu sendiri. Yang notabene agar manusia senantiasa terkontrol dalam tingkah laku yang baik, saling mengasihi dan mencintai. Nilai-nilai agama tercerabut dari batin manusia, dan seolah jahiliyyah baru hadir kembali di tengah peradaban yang diagung-agungkan ini.

Modernisasi dan materialism yang sering membuat kesenjangan social, ditambah lagi dengan semakin parahnya ketidakjujuran dan ketidakadilan, semakin memperjelas kesenjangan social. Padahal dalam ajaran agama, Nabi telah member teladan moralitas yang luhur lewat pembinaan ukhuwah, menyantuni fakir miskin, menegakkan keadilan, kejujuran dan memberantas korupsi. Namun nilai-nilai yang luhur yang terkandung dalam agama itu nampaknya belum teraktualisasi secara utuh. Tidak dapat dipungkiri, lahirnya krisis moral saat ini adalah karena munculnya ketidakadilan, kesenjangan dan kecemburuan social. System ekonomi yang membuat si kaya menjadi semakin kaya, dan si miskin semakin miskin, termasuk salah satu factor penyebab tumbuhnya kecemburuan social.

Kita sekarang tengah melakukan aktivitas mengangkat umat dari jurang kehinaan, keterbelakangan dan kemunduran. Kita sekarang melakukan aktivitas membangkitkan umat agar dapat kembali kepada keagungan sebagai umat yang besar, sebagai umat yang satu dan tidak terpecah-pecah, sebagai umat yang kuat yang menggentarkan dunia. Ada beberapa golongan sengaja mengadakan ceremony-ceremony, berkumpul bersama seperti, peringatan hari-hari bersejarah islam, berdalih bahwa ceremony yang mereka lakukan adalah untuk menilik nilai-nilai spiritual yang ada pada hari-hari tersebut dengan tujuan tersebut. Ada sebagaian umat islam yang sangat bersemangat dalam menyelenggarakannya, misalnya pada saat maulid Nabi, isra’ dan mi’raj dan masih banyak lagi perayaan yang diadakan oleh umat islam, yang kesemuanya itu untuk meningkat moralitas umat guna mengangkat umat dari jurang kehianaan dan keterbelakangan.

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut dapat di rumuskan beberapa masalah yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu :

1)      Apa esensi perayaan hari-hari besar islam bagi peningkatan nilai spiritual umat ?

 

  1. C.     Beberapa Hari Besar Islam

Ada beberapa hari-hari besar yang sering diperingati umat islam termasuk umat islam di Indonesia. Di Indonesia sendiri sedikitnya ada enam hari besar islam yang sering dilakukan umat islam dan tercatat pada libur nasional pada kalender yang berlaku di Indonesia. Diantaranya tahun baru islam (1 muharram), maulid Nabi (12 Rabiul awal), isra’ dan mi’raj (27 rajab), idul fitri (1 syawal) dan idul adha (10 dzulhijjah).

Banyak nilai spiritual yang terkandung dalam perayaan hari besar islam. Tak jarang dari umat islam yang mengatakan bahwa perayaan-perayaan hari besar itu bermaksud untuk membangkitkan ghiroh keagamaan mereka, mereka saling mengasihi dengan cara bertukar makanan, saling berkunjung dari rumah ke rumah dan banyak macam aktifitas lainnya yang mereka lakukan untuk merayakan hari-hari tersebut guna membakar semangat keagamaan yang telah redup.

Dari banyaknya perayaan hari besar islam yang dilakukan umat islam, pada makalah ini penulis akan berfokus pada beberapa saja hari besar islam yang sering dirayakan tersebut, diantaranya maulid Nabi dan isra’ dan mi’raj.

1)      Maulid Nabi Muhammad SAW dan Esensinya

Banyak cara yang dilakukan umat islam untuk mewujudkan rasa cintanya kepada Nabi. Salah satu diantranya adalah dengan mengadakan peringatan Maulid Nabi setiap tahun. Banyak diantara mereka yang bernadzar untuk mengadakan acara maulidan.

Banyak sumber yang membicarakan awal mula perayaan maulid Nabi. Namun terdapat beberapa perbedaan di dalamnya. Ada yang berpendapat –dan paling popular di kalangan muslim– Maulid Nabi pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193).[1] Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.[2]

Dalam peringatan maulid Nabi, umat islam hendaknya perlu merenungkan apa sesungguhnya relevansi peringatan tersebut dengan kondisi moral masyarakat saat ini. Selain untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah, maulid juga mengandung makna untuk meneladani akhlak Nabi. Meminjam istilah Schimmel, Nabi adalah seorang tokoh moral yang tak ada tandingannya. Nabi selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada semua orang.[3]

Hendaknya dalam merayakan maulid Nabi, seorang muslim tidak seperti kaum nasrani yang memperingati kelahiran Isa. Tidak berlebihan dalam hal makanan, pujian kepada Nabi dan sebagainya. Namun perayaan tersebut dapat dijadikan sebagai uslub untuk mengajak masyarakat agar senatiasa teringat kepada apa yang ditinggalkan oleh Rasul, kitabullah dan sunahnya.

Maulid Nabi tetap relevan diperingati, esensinya adalah untuk menyuburkan kembali moralitas umat yang telah mengalami kegersangan. Jika Salahuddin dahulu memperingati Maulid Nabi untuk membangkitkan semangat umat dalam perang salib, maka kini masalah yang dihadapi adalah keserakahan hawa nafsu. Kini banyak orang kehilangan arah, karena nilai-nilai moral tersebut telah tercerabut dari akarnya.

2)     Isra’ dan Mi’raj Serta Esensinya

Umat islam hampir di seluruh dunia termasuk umat islam di Indonesia merayakan malam 27 rajab setiap tahun, yaitu malam yang dinamakan “malam Mi’raj”. Malam ini dianggap paling bersejarah oleh umat islam dunia karena pada mala mini Rasulullah Muhammad melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis (palestina) dan dari sana beliau naik kelangit dengan didampingi oleh malaikat jibril.

Mengenang kembali peristiwa isra’ dam mi’raj sering dijadikan momen membangkitkan moralitas umat yang mulai rapuh. Karena makna isra’ dan mi’raj sesungguhnya tidaklah hanya sebatas pada perjalanan ke langit, namun lebih penting adalah hikmah atau pelajaran yang diperoleh dari perjalan tersebut. Dari peristiwa tersebut turun perintah sholat lima waktu sebagai peningkatan ketakwaan kepada Allah SAW. Shalat juga sebagai usaha untuk membersihkan diri dari noda dan dosa, sekaligus sebagai benteng dari krisis moral.

Dalam memperingati peristiwa isra’ dan mi’raj, membuat kita banyak merenung atas tragedy krisis moral yang terjadi selama ini. Kegersangan spiritual nampaknya telah mencapai titik nadir yang memprihatinkan. Sepintas dari luar seolah ada kegairahan beragama di tengah masyarakat. Dengan melihat ritual-ritual ibadah seperti sholat, puasa, haji dan lain-lain, kita sering silau melihat penampilan fisik seseorang. Padahal jika mau jujur, saat ini banyak orang berwajah topeng dengan berbagai atribut keshalehan yang melekat pada dirinya. Jelasnya banyak orang yang berpura-pura shaleh, tetapi ternyata penipu rakyat, koruptor dan banyak melakukan tindakan tercela.

Dengan demikian peringatan isra’ dan mi’raj yang dilakukan tidak hanya sebagai rutinitas tiap tahun belaka, namun esensi dari peristiwa isra’ dan mi’raj itu mampu ditanamkan pada diri setiap muslim.

 

  1. D.  Penutup

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perayaan hari-hari besar islam yang dilakukan oleh umat islam di dunia dan umat islam yang ada di Indonesia adalah merupakan salah satu uslub yang digunakan oleh para da’I kita guna meningkatnya nilai spiritual yang ada pada diri masyarakat (mad’u). Artinya peringatan hari-hari besar islam tersebut bukanlah satu-satunya cara yang dapat digunakan oleh para da’i. Masih banyak cara yang lebih efektif dan efisien yang dapat digunakan oleh para da’I dalam usaha peningkaan nilai spiritual umat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Al-Baghdady, Engkaulah Rasul Panutan Kami,Jakarta:Insan Press,2008.

Hamdan Daulay, Dakwah Di tengah Persoalan Budaya dan Politik,Yogyakarta:Lesfi,2001.

Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama,Jakarta:Penerbit Pustaka Tarbiyah,2005.

http://bisnisuangotomatis.com/


[1] Abdurrahman Al-Baghdady, Engkaulah Rasul Panutan Kami, (cet.I.,Jakarta:Insan Press,2008)h.88.

[2] http://bisnisuangotomatis.com/ pada tanggal 24/3/2011 21:46 am

[3] Hamdan Daulay, Dakwah Di tengah Persoalan Budaya dan Politik, (cet.I.,Yogyakarta:Lesfi,2001)h.23.

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.