PERAYAAN HARI-HARI BESAR ISLAM DAN NILAI SPIRITUAL BAGI UMAT ISLAM

  1. A.     Latar Belakang

Betapa banyak krisis moral yang melanda umat dewasa ini, maraknya korupsi, kolusi, manipulasi, perkosaan, pembunuhan sesame manusia dan masih banyak lagi adalah merupakan nestapa kelam dalam peradaban manusia. Tampaknya manusia sudah semakin berani menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sehingga nilai-nilai agama yang begitu luhur sudah tercerabut dari batin manusia.

Ditengah derasnya arus modernisasi dewasa ini, nampaknya agama tidak lagi dijadikan manusia sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia itu sendiri. Yang notabene agar manusia senantiasa terkontrol dalam tingkah laku yang baik, saling mengasihi dan mencintai. Nilai-nilai agama tercerabut dari batin manusia, dan seolah jahiliyyah baru hadir kembali di tengah peradaban yang diagung-agungkan ini.

Modernisasi dan materialism yang sering membuat kesenjangan social, ditambah lagi dengan semakin parahnya ketidakjujuran dan ketidakadilan, semakin memperjelas kesenjangan social. Padahal dalam ajaran agama, Nabi telah member teladan moralitas yang luhur lewat pembinaan ukhuwah, menyantuni fakir miskin, menegakkan keadilan, kejujuran dan memberantas korupsi. Namun nilai-nilai yang luhur yang terkandung dalam agama itu nampaknya belum teraktualisasi secara utuh. Tidak dapat dipungkiri, lahirnya krisis moral saat ini adalah karena munculnya ketidakadilan, kesenjangan dan kecemburuan social. System ekonomi yang membuat si kaya menjadi semakin kaya, dan si miskin semakin miskin, termasuk salah satu factor penyebab tumbuhnya kecemburuan social.

Kita sekarang tengah melakukan aktivitas mengangkat umat dari jurang kehinaan, keterbelakangan dan kemunduran. Kita sekarang melakukan aktivitas membangkitkan umat agar dapat kembali kepada keagungan sebagai umat yang besar, sebagai umat yang satu dan tidak terpecah-pecah, sebagai umat yang kuat yang menggentarkan dunia. Ada beberapa golongan sengaja mengadakan ceremony-ceremony, berkumpul bersama seperti, peringatan hari-hari bersejarah islam, berdalih bahwa ceremony yang mereka lakukan adalah untuk menilik nilai-nilai spiritual yang ada pada hari-hari tersebut dengan tujuan tersebut. Ada sebagaian umat islam yang sangat bersemangat dalam menyelenggarakannya, misalnya pada saat maulid Nabi, isra’ dan mi’raj dan masih banyak lagi perayaan yang diadakan oleh umat islam, yang kesemuanya itu untuk meningkat moralitas umat guna mengangkat umat dari jurang kehianaan dan keterbelakangan.

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut dapat di rumuskan beberapa masalah yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu :

1)      Apa esensi perayaan hari-hari besar islam bagi peningkatan nilai spiritual umat ?

 

  1. C.     Beberapa Hari Besar Islam

Ada beberapa hari-hari besar yang sering diperingati umat islam termasuk umat islam di Indonesia. Di Indonesia sendiri sedikitnya ada enam hari besar islam yang sering dilakukan umat islam dan tercatat pada libur nasional pada kalender yang berlaku di Indonesia. Diantaranya tahun baru islam (1 muharram), maulid Nabi (12 Rabiul awal), isra’ dan mi’raj (27 rajab), idul fitri (1 syawal) dan idul adha (10 dzulhijjah).

Banyak nilai spiritual yang terkandung dalam perayaan hari besar islam. Tak jarang dari umat islam yang mengatakan bahwa perayaan-perayaan hari besar itu bermaksud untuk membangkitkan ghiroh keagamaan mereka, mereka saling mengasihi dengan cara bertukar makanan, saling berkunjung dari rumah ke rumah dan banyak macam aktifitas lainnya yang mereka lakukan untuk merayakan hari-hari tersebut guna membakar semangat keagamaan yang telah redup.

Dari banyaknya perayaan hari besar islam yang dilakukan umat islam, pada makalah ini penulis akan berfokus pada beberapa saja hari besar islam yang sering dirayakan tersebut, diantaranya maulid Nabi dan isra’ dan mi’raj.

1)      Maulid Nabi Muhammad SAW dan Esensinya

Banyak cara yang dilakukan umat islam untuk mewujudkan rasa cintanya kepada Nabi. Salah satu diantranya adalah dengan mengadakan peringatan Maulid Nabi setiap tahun. Banyak diantara mereka yang bernadzar untuk mengadakan acara maulidan.

Banyak sumber yang membicarakan awal mula perayaan maulid Nabi. Namun terdapat beberapa perbedaan di dalamnya. Ada yang berpendapat –dan paling popular di kalangan muslim– Maulid Nabi pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193).[1] Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.[2]

Dalam peringatan maulid Nabi, umat islam hendaknya perlu merenungkan apa sesungguhnya relevansi peringatan tersebut dengan kondisi moral masyarakat saat ini. Selain untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah, maulid juga mengandung makna untuk meneladani akhlak Nabi. Meminjam istilah Schimmel, Nabi adalah seorang tokoh moral yang tak ada tandingannya. Nabi selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada semua orang.[3]

Hendaknya dalam merayakan maulid Nabi, seorang muslim tidak seperti kaum nasrani yang memperingati kelahiran Isa. Tidak berlebihan dalam hal makanan, pujian kepada Nabi dan sebagainya. Namun perayaan tersebut dapat dijadikan sebagai uslub untuk mengajak masyarakat agar senatiasa teringat kepada apa yang ditinggalkan oleh Rasul, kitabullah dan sunahnya.

Maulid Nabi tetap relevan diperingati, esensinya adalah untuk menyuburkan kembali moralitas umat yang telah mengalami kegersangan. Jika Salahuddin dahulu memperingati Maulid Nabi untuk membangkitkan semangat umat dalam perang salib, maka kini masalah yang dihadapi adalah keserakahan hawa nafsu. Kini banyak orang kehilangan arah, karena nilai-nilai moral tersebut telah tercerabut dari akarnya.

2)     Isra’ dan Mi’raj Serta Esensinya

Umat islam hampir di seluruh dunia termasuk umat islam di Indonesia merayakan malam 27 rajab setiap tahun, yaitu malam yang dinamakan “malam Mi’raj”. Malam ini dianggap paling bersejarah oleh umat islam dunia karena pada mala mini Rasulullah Muhammad melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis (palestina) dan dari sana beliau naik kelangit dengan didampingi oleh malaikat jibril.

Mengenang kembali peristiwa isra’ dam mi’raj sering dijadikan momen membangkitkan moralitas umat yang mulai rapuh. Karena makna isra’ dan mi’raj sesungguhnya tidaklah hanya sebatas pada perjalanan ke langit, namun lebih penting adalah hikmah atau pelajaran yang diperoleh dari perjalan tersebut. Dari peristiwa tersebut turun perintah sholat lima waktu sebagai peningkatan ketakwaan kepada Allah SAW. Shalat juga sebagai usaha untuk membersihkan diri dari noda dan dosa, sekaligus sebagai benteng dari krisis moral.

Dalam memperingati peristiwa isra’ dan mi’raj, membuat kita banyak merenung atas tragedy krisis moral yang terjadi selama ini. Kegersangan spiritual nampaknya telah mencapai titik nadir yang memprihatinkan. Sepintas dari luar seolah ada kegairahan beragama di tengah masyarakat. Dengan melihat ritual-ritual ibadah seperti sholat, puasa, haji dan lain-lain, kita sering silau melihat penampilan fisik seseorang. Padahal jika mau jujur, saat ini banyak orang berwajah topeng dengan berbagai atribut keshalehan yang melekat pada dirinya. Jelasnya banyak orang yang berpura-pura shaleh, tetapi ternyata penipu rakyat, koruptor dan banyak melakukan tindakan tercela.

Dengan demikian peringatan isra’ dan mi’raj yang dilakukan tidak hanya sebagai rutinitas tiap tahun belaka, namun esensi dari peristiwa isra’ dan mi’raj itu mampu ditanamkan pada diri setiap muslim.

 

  1. D.  Penutup

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perayaan hari-hari besar islam yang dilakukan oleh umat islam di dunia dan umat islam yang ada di Indonesia adalah merupakan salah satu uslub yang digunakan oleh para da’I kita guna meningkatnya nilai spiritual yang ada pada diri masyarakat (mad’u). Artinya peringatan hari-hari besar islam tersebut bukanlah satu-satunya cara yang dapat digunakan oleh para da’i. Masih banyak cara yang lebih efektif dan efisien yang dapat digunakan oleh para da’I dalam usaha peningkaan nilai spiritual umat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Al-Baghdady, Engkaulah Rasul Panutan Kami,Jakarta:Insan Press,2008.

Hamdan Daulay, Dakwah Di tengah Persoalan Budaya dan Politik,Yogyakarta:Lesfi,2001.

Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama,Jakarta:Penerbit Pustaka Tarbiyah,2005.

http://bisnisuangotomatis.com/


[1] Abdurrahman Al-Baghdady, Engkaulah Rasul Panutan Kami, (cet.I.,Jakarta:Insan Press,2008)h.88.

[2] http://bisnisuangotomatis.com/ pada tanggal 24/3/2011 21:46 am

[3] Hamdan Daulay, Dakwah Di tengah Persoalan Budaya dan Politik, (cet.I.,Yogyakarta:Lesfi,2001)h.23.