PENGARUH AL-QUR’AN TERHADAP JIWA

 

  1. PENDAHULUAN

 

Al-Qur’an adalah rahmad Allah yang terbesar untuk umat manusia. Al-Qur’an adalah pemenuhan janji-janji Allah terhadap adam dan keturunannya.[1]

$oYù=è% (#qäÜÎ7÷d$# $pk÷]ÏB $YèŠÏHsd ( $¨BÎ*sù Nä3¨YtÏ?ù’tƒ ÓÍh_ÏiB “W‰èd `yJsù yìÎ7s? y“#y‰èd Ÿxsù ì$öqyz öNÍköŽn=tæ Ÿwur öNèd tbqçRt“øts† ÇÌÑÈ

Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (al-Baqarah : 38)

Al-Quran adalah satu-satunya senjata untuk menolong keberadaan diri manusia yang rapuh saat berjuang menghadapi kekuatan-kekuatan syetan dan godaan-godaan dunia ini. Dia pula satu-satunya cara untuk mengatasi ketakutan dan kekhawatiran manusia. Dialah satu-satunya cahaya (nur) saat manusia meraba-raba dalam kegelapan, dengannya untuk menemukan cara kepada kesuksesan dan keselamatan. Dialah satu-satunya obat (asy-syifa) bagi penyakit dalam diri manusia dan penyakit-penyakit sosial yang dapat berada di sekeliling manusia. Dan dialah (Al-Quran) pengingat (adz-dzikru) dari tujuan dan sifat manusia yang sebenarnya, dari tempat, pekerjaan, pahala-pahala, dan dosa-dosa manusia.

Al-Quran adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumbernya yang asli dalam ayat-ayat Al-Quran [2] sebagaimana Allah berfirman : “Kami menurunkan AI-Quran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS 16:89). Demikianlah batapa sempurnanya Al-Quran ini yang tidak di turunkan hanya untuk orang-orang tertentu saja melainkan semua umat manusia, baik bangsa Arab atau bukan.

Dari perspektif tersebut, dapat kami rumuskan permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah : 1) Bagaimana pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa? 2) Bagaimana fungsi Al-Qur’an sebagai asy-syifa bagi jiwa manusia?

 

  1. Penjelasan jiwa (An-Nafs)

 

An-Nafs (jiwa) memilii beberapa arti, yaitu :[3]

1)        Mengandung makna yang mencakup kekuatan ghadhab (marah) dan syahwat dalam diri manusia. Makna ini biasa digunakan oleh ahli tasawwuf, sebab bagi mereka nafs adalah pokok yang mencakup segala sifat buruk dalam diri manusia.

2)        Nafs dalam arti “sesuatu yang lembut”. Nafs ini disifati dengan beragam sifat sesuai dengan keadaan jiwa. Jika nafs ini berada dibawah perintah, bertentangan dengan syahwat, maka dinamakan nafsu muthma’innah (jiwa yang tenang.

Jiwa adalah sesuatu yang bersifat abstrak, yang sangat susah untuk mengenalinya. Salah satu cara untuk mengenali jiwa adalah dengan mengobservasi perilakunya, walaupun perikalu bukan merupakan pencerminan dari jiwa secara keseluruhan.[4]  Allah menerangkan di dalam Al-Quran :

štRqè=t«ó¡o„ur Ç`tã Çyr”9$# ( È@è% ßyr”9$# ô`ÏB ̍øBr& ’În1u‘ !$tBur OçFÏ?ré& z`ÏiB ÉOù=Ïèø9$# žwÎ) WxŠÎ=s% ÇÑÎÈ

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.(QS. Al-Isra’ : 85)

Sebagian para ahli sependapat bahwa untuk mempelajari jiwa seseorang di gunakanlah ilmu yang disebut psikologi. Walaupun di dalam Al-Quran Allah telah memberi penjelasan (seperti ayat di atas), bukan berarti menutup kemungkinan untuk mengkaji tentang jiwa.

  1. C.     Pengaruh Al-Quran terhadap jiwa

 

Al-Quran sebagai salah satu mu’jizat mengandung banyak sekali faedah bagi umat manusia. Salah satunya adalah Al-Quran dapat di jadikan sebagai obat (Asy-Syifa). Banyak sekali orang mencari ketenangan di luar sana untuk menenangkan jiwanya. Gangguan kepribadian ini disebabkan adanya serangkaian tingkah laku yang menyimpang dari fitrah manusia yang telah ditetapkan Allah SWT.[5] Penyimpangan tersebut yang mengakibatkan penyakit dalam jiwa seseorang, yang apabila mencapai puncaknya mengakibatkan terkuncinya atau kematian Qolbu. Imam Al-Ghazali pernah berkata: “akhlak yang buruk merupakan penyakit hati dan penyakit jiwa”.[6]

Banyak orang yang  lupa akan adanya obat yang sangat mujarab bagi penyakitnya itu. Al-Quran dapat di jadikan sebagai obat dengan cara membacanya dengan disertai pemaknaan. Ia dapat memberi ketenangan pada jiwa.

 

 

 

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isro’: 82)

 

  1. Terapi dengan Al-Quran

1)      Penguasaan terhadap marah

Al-Quran mewasiatkan kepada kita agar mengontrol emosi marah, sebab ketika manusia marah pikirannya menjadi macet dan hilang kemampuannya untuk mengeluarkan hukum yang benar. Rasulullah SAW berpesan kepada kaum muslimin agar mereka mengendalikan rasa marah. Abu Hurairah berkata, Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah, Berilah saya wasiat! Rasulullah berkata : “Engkau jangan marah”!! lelaki itu ,mengulangi permintaannya beberapa kali, dan beliau jawabannya serupa, “Engkau jangan marah”!![7]

Rasulullah mengajari sahabatnya bagaimana mengontrol kemarahan. Dengan hikmahnya yang sangat besar dan pengetahuannya yang mendalam mengenai karakter manusia, beliau memberikan kiat-kiat praktis dan efektif yang dapat diterapkan untuk mengontrol emosi. Dari sinilah semakin terbukti bahwa Rasulullah sangat mengetahui tabiat dan karakter manusia.

Salah satu peredam kemarahan adalah relaksi tubuh dan melepaskan ketegangan. Jika kondisi tubuh kembali normal, gejolak marah akan lenyap. Rasulullah mengajarkan agar para sahabat duduk, jika saat marah dalam keadaan berdiri. Jika belum juga meredam kemarahannya, memerintahkan agar berbaring.[8] Wudhu adalah termasuk salah satu kiat yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat untuk mengendalikan marah. “Sungguh marah adalah syetan. Dan sungguh syetan diciptakan dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, wudhulah”.[9]

2)        Mengendalikan rasa sedih

Rasa sedih merupakan salah satu letupan emosi yang dirasakan seseorang saat ia kehilangan orang yang disayanginya, atau sesuatu yang sangat penting dan bernilai baginya. Saat sedih orang akan merasa keruh dan tidak lapang. Karena itu, manusia akan selalu menghindari rasa sedih dan tidak akan menyukainya. Rasulullah memohon perlindungan kepada Allah dari rasa sedih, sebagaimana tercantum dalam doanya : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih…..”[10]

Rasulullah mengajak kaum muslimin agar mampu mengendalikan kesedihan ketika ditimpa musibah. Mengendalikan rasa sedih bukan berarti tidak menangis dan tidak merasa sedih hati. Karena menangis dan bersedih hati adalah hal yang fitrah yang diperbolehkan dan tidak berbahaya. Yang dimaksud mengendalikan rasa sedih adalah mencegah agar kesedihan itu tidak menjadi berlebihan, misalnya dengan memukul-mukul tubuhnya dan menyobek pakaiannya.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah menemui putranya Ibrahim yang sedang  menghadapi maut, kedua  mata beliau berkaca-kaca. Lantar Abdurrahman bin Auf  berkata Engkaupun menangis ya Rasulullah? Beliau menjawab, wahai putra Auf, sesungguhnya ini adalah air mata kasih. Sesungguhnya mata mengeluarkan air mata dan bersedih, tetapi kitda tidak mengatakan sesuatu selain yang diridhai Tuhan kita. Dan kami wahai Ibrahim, bersedih karena berpisah denganmu”.[11]

Masih banyak lagi penyakit-penyakit yang dapat mengganggu ketenangan jiwa. Namun penulis hanya memaparkan beberapa saja. Hakikatnya, segala penyakit berawal dari hati. Jika hati baik, maka akan baik seluruhnya. Qolbu yang sehat dan diberi asupan keimanan dan Al-Quran akan menguatkan, mengukuhkan, menggembirakan, dan menyenangkan serta memberi semangat dan memantapkan Qolbu. Qolbu dan tubuh masing-masing memerlukan pemeliharaan dan perawatan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Jasad tubuh memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan memerlukan antibody untuk menghindari hal-hal yang membahayakan. Begitu juga halnya dengan Qolbu, ia akan tumbuh berkembang dan menjadi sempurna kesehatannya harus dengan sesuatu yang baik pula. Tidak ada  jalan lain untuk mencapainya kecuali melalui Al-Quranul karim.

  1. E.     PENUTUP


Dari ulasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa Al-Quran sebagai mu’jizat dapat memberikan ketenangan tersendiri bagi jiwa yang dilanda kesedihan dan penyakit-penyakit lainnya. Dengan membaca dan memaknai, ketenangan itu akan hadir di dalam jiwa. Al-Quran dapat membawa manusia kepada jiwa yang terang. Dan Al-Quran juga merupakan cakupan makanan bagi hati dan jiwa.

Segala penyakit datangnya dari hati manusia. Dan penyakit hati hanya dapat disembuhkan melalui terapi Quran. Dengan jalan menjadikan Quran sebagai bacaan rutin setiap hari, hati akan terasa lebih tenang. Al-Quran akan memberikan power dari dalam diri kita untuk menghadapi rangsangan dari luar. Al-Quran juga dapat meluluhkan hati yang selalu keras. Untuk itu jadikan Al-Quran sebagai bahan bacaan yang selalu dibaca setiap hari. Ambillah Al-Quran yang selama ini hanya dijadikan bahan pajangan di lemari-lemari anda, dan sudah saatnya Al-Quran yang sebagai Syifa ini selalu menghiasi kehidupam kita.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Salim,Husain,Ahmad.Terapi Al-Quran. Astra Buana Sejahtera:Jakarta, 2006.

Sobur,Alex.Psikologi Umum. Pustaka Setia:Bandung, 2003.

Mujib,Abdul.Kepribadian Dalam Psikologi Islam.Rajagrafindo Persada:Jakarta.2006.

Murad,Khurra.Membangun Generasi Qur’ani. Media Da’wah:Jakarta, 1999.

Thabathaba’I,M.H,Allamah. Mengumgkap Rahasia Al-Quran. Penerbit Mizan:Jakarta,1997.

Najati,Usman,Muhammad.The Ultimate Psychology. Pustaka HIdayah:Bandung,2008.

 

 


[1] Khurram Murad, Membangun Generasi Qur’ani, (cet.I., Media Da’wah: Jakarta, 1999) h.16.

[2] M.H Allamah Thabathaba’I, Mengumgkap Rahasia Al-Quran, (Jakarta,1997) h.8.

[3] Ahmad Husain Ali Salim. Terapi Al-Quran, (cet.I., Astra Buana Sejahtera:Jakarta,2006)h.12.

[4]Alex Sobur. Psikologi Umum,(cet.I. Pustaka Setia:Bandung, 2003)h.22.

[5]Abdul Mujib. Kepribadian Dalam Psikologi Islam, (Rajagrafindo Persada:Jakarta,2006) h.351.

[6] Ibid.hal. 352

[7] HR. Bukhari, Malik dan Tirmidzi (An-Nawawi, vol.I, hal.533, hadits no.639/8)

[8] Muhammad Usman Najati, The Ultimate Psychology,(cet.I.,Pustaka HIdayah: Bandung, 2008) h.128.

[9] HR. Abu Dawud, vol. IV, hal. 249, hadits no. 4783

[10] HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad (Wansinck, vol. I, hal. 461)

[11] HR. Bukhari (An-Nawawi, vol. I, hal. 700, hadits no. 927/3)